Tuhan Yang Maha Esa. Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Nahi Munkar dari Kejahatan Narkoba



Pemuda adalah tulung punggung bangsa. Pemuda adalah masa depan bangsa. Sedemikan pentingnya kedudukan peran pemuda, sehingga Bung Karno mengatakan, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia” (Bung Karno, Penyambung Lidah rakyat). Selain itu Bung karno juga berucap dalam pidatonya, “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung semeru. Beri aku sepuluh pemuda, maka akan ku goncangkan seluruh Dunia.
Kedudukan dan peran pemuda memang sangat vital dalam pembangunan sehingga masa depan bangsa berada di tangan mereka. Di pundak mereka harapan dan cita-cita bangsa ini digantungkan. Sehingga dituntut berperan aktif dan tampil di garda terdepan pembangunan bangsa, baik fisik maupun mental spiritual atau karakter.
Dalam dewasa ini, akan Tetapi tantangan semakin kuat dalam perjalanan yang beriringan dengan arus globalisme mengakibatkan banyak sekali pemuda yang cenderung mulai menurun rasa nasionalisme. Padahal peran pemuda sangat dibutuhkan dalam proses mengawal perjalanan negeri ini.
Dalam situasi yang seperti ini ketika tidak ada benteng yang kuat dalam diri pemuda, maka yang terjadi akan membawa mereka kedalam sebuah tindakan yang cenderung mengarahkan kepada hal-hal yang bersifat negatif. Budaya-budaya yang bersifat hedonism turut menjadi sebuah gaya hidup yang terus diikuti. Ketika mereka merasa tidak bisa mengikuti segala perkembangan yang ada, dan mengarah pada tingkat stress maka larinya akan ke sebuah dunia gemerlap. Yang dianggap menjadi sebuah jawaban dan solusi dari segala permasalahan yang dihadapi.
Kita tahu sendiri ketika mereka sudah mengarah ke Dunia tersebut akan lebih dekat dengan yang namanya obat-obatan terlarang. Ini juga bukan sebuah karangan belaka, tetapi ini sudah mulai terlihat dari data-data yang ada bahwa pemuda saat ini darurat narkoba. Berdasarkan data dari Kompas, 11 Januari 2016, kepala BNN Budi waseso Mengatakan pengguna Narkoba di Indonesia meningkat hingga 5,9 Juta orang hingga pada bulan November 2015.
Ini merupakan  sebuah bom waktu yang bisa meletus kapan saja jika terus dibiarkan seperti ini. Ketika tidak segera ada tindakan nyata dari berbagai pihak untuk mencegah meluasnya hal ini.  Pada data BNN disebutkan tahun 2014, korban meninggal akibat narkoba juga cukup tinggi yaitu mencapai 33 orang per hari dan mencapai 12.044 orang dalam satu tahun.
Tidak hanya menyebabkan rusaknya mental pemuda negeri ini, kejahatan Narkoba juga membawa kerugian pada Negara mencapai Rp 63,1 triliun. Pemberian sanksi berupa hukuma mati kepada pelaku kejahatan narkoba tenyata juga tidak memberikan efek jera tersendiri. Tercatat sudah 10 orang yang di vonis hukuman mati.
Dalam lingkup yang lebih kecil, dalam hal ini wilayah Kabupaten Blitar. Dimana jika dilihat Kabupaten Blitar merupakan wilayah yang jauh dari Kota besar. Tetapi ternyata pengaruh dari narkoba ini juga tergolong banyak. Tercatat bahwa selama tahun  2015, ada penderita narkoba yang direhabilitasi di Kabupaten Blitar. Dan selama tahun 2016 samapi dengan april ada 15 orang pengguna, dari data tersebut 35 % pengguna sabu dan ganja, sisanya pil dobel L. Ini sangat ironi kita bisa bayangkan Blitar yang notabenenya sebuah kota kecil tetapi angka kejahatan narkobanya cukup tinggi. Blitar merupakan lahirnya para tokoh-tokoh besar. Dan harapanya suatu saat nanti akan lahir tokoh-tokoh besar lagi yang lahir dari Blitar. Maka dari itu persoalan yang menyangkut dengan narkoba tidak bisa dibiarkan lebih lama. 
Menanggulangi masalah ini harus dibutuhkan sinergisitas semua pihak. Tidak bisa dibebankan pada satu lembaga tertentu. Selain itu juga peran dari pemuda sendiri sangat dibutuhkan dalam mencegah efek dari merebaknya narkoba ini. Selain itu juga peran membumikan ajaran keagamaan diyakini mampu dapat mengurangi dan mencegah semakin meluasnya narkoba ini.
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) adalah organisasi kemahasiswaan Nahdlatul Ulama yang berlandaskan Ahlussunnah wal jamaah yang mempunyai tujuan "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia". Berdasarkan tujuan yang tercantum dalam Ad/Art Bab IV dan pasal 4 tersebut PMII selalu berada dalam garda terdepan dalam memperjuangkan cita-cita bangsa ini. Karena PMII menyadari sendiri dalam kutipan lagu  Indonesia Raya yang berbunyi “bangunlah jiwanya, bangunlah badanya untuk Indonesia raya”. Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa dalam membangun bangsa ini perlunya membangun Jiwanya, membangun mentalnya.
Dan dalam membangun tersebut harus dimulai dengan membangun jiwa pemudanya. Karena pemuda menjadi harapan bangsa ini dimasa mendatang. Ketika moral pemuda suatu bangsa sudah rusak, maka tinggal menunggu waktu saja hancurnya sebuah bangsa tersebut. Disini PMII dengan segala kelebihannya harus mampu mengaplikasi segala ilmunya terutama aswaja sebagai manhajul Fikr harus mampu menjadi perisai yang mampu menangkal segala bentuk kemungkaran. Kader PMII harus menjadi lilin-lilin kecil yang mampu menyinari lingkungannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Kado untuk Hari Pendidikan Nasional

2 mei kemarin banyak yang euforia memperingati hari pendidikan. Semua sosial media berisikan status yang mengucapkan selamat hari pendidikan. Tetapi ada sesuatu yang ganjal pada hari peringatan Hari Pendidikan tahun ini, yaitu di corengkan dengan berbagai kasus kriminal yang justru melibatkan usia anak-anak yang jadi korban maupun tersangkanya. Masih hangat ditelinga kita perbincangan kasus tewasnya pelajar SMP kelas VIII dengan atas nama Yuyun, yang turut melibatkan 14 tersangka yang kesemuanya masih berusia dibawah 20 tahun. Ada apa dengan ini semua, apakah ini sebagai kado di Hari Pendidikan ini. Apakah ini juga sebagai tamparan keras terhadap pendidikan yang ada di Republik ini. Sebetulnya sudah jelas dalam UUD 1945 (versi amandemen) dalam Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” selanjutnya juga dalam Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.” Sebetulnya dalam kedua pasal tersebut sudah jelas disebutkan peran dan fungsi pemerintah dalam sistem pendidikan di Indonesia. pertanyaan besarnya apa yang salah dengan sistem pendidikan yang selama sudah berjalan. Beberapa waktu lalu juga terdengar keras gaungnya Pendidikan Karakter. Tetapi itu semua hanya menjadi sebuah slogan belaka. Pada kasus berikutnya dunia juga digegerkan dengan seorang dosen yang tega membunuh Dosen hanya karena masalah skripsi. Ini juga menjadi sebuah masalah besar dalam dunia pendidikan. Mahasiswa yang sejatinya terkenal dengan orang-orang inteleknya tapi justru dinodai dengan ini. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak tidak hanya para pembuat kebijakan tetapi juga diperlukan sebuah partisipasi semua pihak demi terselenggaranya sistem pendidikan sesuai dengan apa yang di amanatkan oleh UUD 1945. Dalam penjabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”  Kalau kita memahami tujuan pendidikan nasional diatas, bahwa tujuan pendidikan yang pertama membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Melihat dari sini terkait sekarang lagi boomingnya pendidikan karakter tanpa disadari pun ini sudah menjadi hal yang paling utama dalam tujuan pendidikan nasional. Selama memang ada sebuah pergeseran dari tujuan pendidikan kita yang hanya berorientasi hanya pada sebuah nilai saja. Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ. Kecerdasan Intelektual, emosional,dan spiritual harus bisa berjalan bersama, seimbang dan berirama. Salah satu tidak ada yang diprioritas tetapi ketiganya harus jadi prioritas. Ketigika semuanya bisa dikolaborasikan maka apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam undang-undang bisa terlaksana, yaitu membentuk peradaban yang beradab. Disini PMII yang punya Dzikir,Fikir dan amal sholihnya harus bisa mengambil peran demi tercapainya tujuan pendidikan nasional, yaitu denganselalu selalu konsisten dalam gerakan intelektual dan sebagai penyeimbangnya dengan diwujudkan dalam spiritualnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Nusantara??????



Nusantara, sebuah kata sederhana tapi menyimpan beribu makna. Terutama bagi kita yang mengenal apa itu “Nusantara”. Ya Nusantara sebuah kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku, ras maupun agama yang hidup berdampingan. Bentangan dari ujung barat (Sabang) sampai timur (Merauke). Ketika pada abad sekitar 12-16 masehi kata ini untuk menggambarkan konsep kenegaraan dari kerajaan mojopahit. Mendengar kata Mojopahit pun, angan-angan kita langsung terbayangkan sebuah kerajaan besar yang hampir seluruh wilayah Asia tenggara maupun pasifik pernah jadi wilayah dari kerajaan mojopahit. Mojopahit ini pun jika dikupas banyak mengandug filosofinya. Kita ketahui bersama Buah Mojo itu bentuk bulat besar dan terkenal dengan rasa yang sangat pahit. Jadi jika dilihat bahwa dengan semangat itu lah berusaha menyatukan nusantara ini supaya menjadi Negara besar dengan bentuk utuh tanpa tercerai berai oleh perbedaan yang ada. Dan pasti untuk menyatukan itu tidak mudah. Karena banyaknya perbedaan suku ras dan agama. Dan memang untuk menyatukan itu semua perlunya sebuah perjuangan. Dengan pengorbanan yang mati-matian pada akhirnya Kerajaan mojophit berhasil menyatukan nusantara. Siapakah dibalik tokoh besar ini ? kita mengenal sosk yang gagah cerdas dan berani, dia adalah maha patih gajah mada. Sewaktu saya berdiskusi beberapa waktu lalu, dijelaskan arti dari gajah mada ini pun sudah memberikan pesan kepada kita ketika menjadi pemimpin. Gajah sebuah hewan yang besar, gagah dan paling cerdas di dunia ini, begitu juga ketika menjadi pemimpin kita harus cerdas dan bisa disegani setiap orang  dengan begitu ketika kita mempunyai gagasan lebih mudah dalam pengaplikasiannya. Selanjutnya kenapa “Mada” dikatakan bahwa Mada artinya Kuda (tidak disebutkan berasal dari bahasa apa). Kuda terkenal sangat gesit, lincah, tangguh. Begitu juga pemimpin selain dituntut memiliki pikiran cerdas, ternyata juga harus tangguh, lincah tahan banting, dan gesit. Tidak mudah kemudian menjaga keutuhan Nusantara yang telah bersatu. Ketika zaman sekarang Indonesia mengenal konsep pansila sebagai dasra Negara. Ternyata konsep pansila itu telah ada ketika zaman kerajaan mojopahit, tercatat dalam sebuah susastra lama dan besar nusantara yaitu Kakawin Nagarakartagama karya Mpu prapanca. Konsep-konsep Negara Indonesia banyak yang diambil dari konsep-konsep Majapahit, misalnya Bendera Merah Putih, Semboyan Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, dll. Nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan gagasan leluhur yang terpendam dan mendarahdaging dalam budaya, adat-istiadat dan masyarakat Nusantara. Nilai-nilai Pancasila pada masa Majapahit yang sangat mencolok kita lihat pada masa Majapahit adalah aspek ketuhanan, nasionalisme, emansipasi, musyawarah,  hubungan luar negeri (internasionalisme). Dalam hal sisi kemanusiaan saya menyoroti tentang ketuhanan, nasionalisme, emansipasi dan musyawarah. Saya rasa konsep itu sangat itu sangat bagus ketika dulu Nusantara yang terdiri dari macam-macam suku bangsa bisa hidup rukun dan damai. Ketika masyrakat damai maka proses pembangunan Negara itu bisa berjalan dengan baik. Kita lihat karya-karya yang sangat monumental pada waktu dulu seprti halnya candi Borobudur dan candi candi yang lain. Mungkin bagi kebanyakan orang yang mustahil membuat bangunan semegah itu dengan teknologi yang sederhana. Tapi bagi orang yang mempelajari ini bukan hal yang mustahil. Karena apa, ketika orang zaman dahulu bisa hidup berdampingan, damai, maka rasa gotong royong dimasyarakat itu akan tumbuh. Jadi bukan mustahil. Ini justru menjadi bukti bahwa dengan kedamaian sesuatu itu lebih mudah diraih. Tapi lama kelamaan konsep pancasila yang didengungkan mojopahit mulai hilang jadi apa yang terjadi? Banyaknya pertikaian dimana-mana, Negara hancur, banyak wilayah yang memisahkan diri. Kemudian menjelang kemerdekaan konsep pancasila didengungkan kembali menjelang kemerdekaan. Negara ini akhirnya bisa bersatu lagi. Jadi menurutnya perlunya menjaga perbedaan karena itu semua kan memberi sebuah warna tersendiri. Menjaga kedamaian adalah tugas kita bersama.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Menjaga NKRI, dari kelompok fundamentalis



 "yang beda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan- Gus Dur"

Beberapa waktu lalu sempat dikejutkan adanya video pemuda kelahiran pasuruan merupakan salah satu angota ISIS yang isinya menantang unsure TNI, POLRI maupun Banser. Ini menjadi sebuah perhatian bersama ketika Unsur-unsur dari keamanan, pertahanan di Negeri ini sudah dilecehkan dengan sedemikian rupa. Ketika kelompok Ekstrimis  sudah mulai eksis dan cukup berani memberikan statement seperti itu tentunya kalau dibiarkan terus menerus akan mengganggu stabilitas dalam negeri. Pemuda yang sekaligus menjadi benteng utama justru telah teracuni oleh gerakan-gerakan fundamentalis. Yang sampai saat ini telah mereduksi nilai-nilai universal kemanusiaan, misal terorisme, radikalisme dan gerakan formalisasi syariah.
Apabila tidak dilakukan gerakan-gerakan Preventif keutuhan Negara ini bisa terancam. Bagaimana pun juga kita harus menghormati dan menghargai jasa ulama yang telah berjuang mempertahankan Negara. misal seperti Wachid hasyim yang merupakan anggota tim Sembilan perumus piagam Jakarta yang menjadi cikal-bakal pembukaan UUD 1945. Perdebatan yang panjang mengenai isi piagam Jakarta tersebut tentang poin pertama yang isinya “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya”.  Kiai wachid hasyim menyadari bahwa orang-orang negeri ini tidak hanya pemeluk islam saja, sehingga demi kepentingan nasional beliau menghendaki untuk mengganti poin pertama piagam Jakarta tersebut menjadi “ketuhanan yang maha esa”. Peran ulama yang lainnya yaitu resolusi jihad yang dikeluarkan oleh kiai hasyim as’ary. Hingga akhirnya perlawanan yang dipimpin oleh Bung tomo disurabaya pada tanggal 10 november di Surabaya.
Kita sebagai generasi muda yang telah diwarisi ini semua, seharusnya mampu menjaga warisan ulama terkait NKRI ini. Dengan mengaplikasikan ajaran-ajarannya yaitu “AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH”  atau yang lebih kita kenal dengan ASWAJA. Tetapi selama ini pemahaman ASWAJA hanya terjebak pada sejumlah pemikiran 4 mazhab, imam maliki, imam syafi’I, imam hanafi dan imam hambali. Sehingga terkesan kaku terbatas pada pemikiran-pemikiran tersebut. Sehingga masih dirasa kurang apabila dijadikan sebagai modal pergerakan untuk menjaga Republik ini.
Di PMII sendiri memaknai ASWAJA menjadi 2, yang pertama ASWAJA sebagai manhajul fikr yaitu sebagai sebuah metode berfikir, dan yang kedua ASWAJA sebagai manhaj taghayur al-ijtima’I yaitu sebuah pola perubahan sosial-kemasyarakatan yang sesuai dengan ruh perjuangan rasulullah dan para sahabatnya. Dari dua makna tersebut dalam pergerakannya berlandaskan moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan keadilan (ta’adul). Kesemuanya itu apabila dijelaskan satu persatu dirasa sudah cukupmewakili semuanya dalam rangka membawa  islam “rahmatan lil ‘alamin”  sebagai modal untuk mempertahankan NKRI dari gerakan-gerakan fundamentalis, yang salah satunya mengusung adanya khilafah islamiyah, yang sangat bertentangan dengan dasar Negara ini pancasila. Yang mencoba menyeragamkan semuanya. Mereka lupa dengan ke-bhinekaan kita. Kita harus mengesampingkan perbedaan yang ada. Menyuplik kata-kata gus dur “yang beda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan”. Selain itu yang perlu diambil pelajaran dari gus dur yaitu pentingnya humanism, bagaimana memanusiakan-manusia. Disini mencoba membawakan islam sebagai ajaran yan ramah bukannya islam yang marah-marah. Dengan terjalinnya rasa kemanusiaan yang tinggi otomatis tujuan bersama kita dalam menjaga NKRI dapat terwujud. Sesuai tag line di medsos dalam menyambut milad NU yang ke 89, yaitu NU mengabdi pada bangsa, NKRI harga mati.  Dan yang perlu jadi PR kita bersama yaitu menjaga PBNU (Pancasila, Bhinneka tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945), sekian……

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

rekayasa sosial dalam semangat pemuda




Ketika seorang awam mendengar istilah rekayasa sosial pasti terbesit dalam  benak bahwa  ada sebuah manipulasi didalamnya.karena istilah rekayasa lebih familiar diartikan sebagai sebuah manipulasi, sebuah manipulasi yang melibatkan banyak individu, karena kata sosial lebih identik dengan banyak orang. Jadi secara awam rekayasa sosial dapat diartikan sebagai manipulasi yang melibatkan banyak orang atau manipulasi yang ada dalam sekelompok orang atau masyarakat.sedangkan Dalam sebuah karyanya yang berjudul rekayasa sosial  karya jalaludin rakmat  telah dijelaskan bahwa rekayasa sosial adalah sebuah proses perancangan kondisi sosial  agar tercipta kondisi  seperti yang diharapkan, hal ini muncul ketika kondisi faktual tidak berjalan seperti yang diharapkan, atau adanya perbedaan antara kenyataan dengan keinginan. Adanya perbedaan inilah yang disebut dengan masalah.
Saat reformasi ’98 negara kita mengalami perubahan sosial. Sebelum reformasi pun sebenarnya sudah terjadi perubahan sosial meskipun amat berangsur-angsur. Perubahan sosial yang terjadi tanpa sepengetahuan kita disebut unplanned sosial change (perubahan sosial yang tak terencana). Ada juga yang kita rencanakan, kita desain, dan kita tetapkan tujuannya, dan disebut planned social change (perubahan sosial yang terencana).
Pada umumnya, masyarakat mengharapkan adanya perubahan sosial ke arah pencapaian kesejahteraan, kemandirian, dan keterbukaan yang mampu mengatasi problem-problem sosial. Oleh karena itu perubahan sosial harus dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terencana. Dan untuk mendukung upaya tersebut, diperlukan sebuah rekayasa sosial berdasar cara pikir yang benar.contoh kasusnya mungkin yang sangat dekat dengan kita adalah kemiskinan, kemiskinan adalah problem sosial yang nyata di indonesia ini sebagai negara berkembang.

Karena prodi saya berhubungan dengan masalah ekonomi, maka dapat saya gambarkan sedikit yang berkaitan tentang ekonomi, yaitu lebih dekat dengan yang namanya kemiskinan. Dalam ekonomi ada suatu istilah yang dinamakan “lingkaran setan”. Apakah lingkaran setan itu sendiri berikut gambarannya. pendidikan rendah menyebabkan SDM rendah, SDM rendah Menyebabkan produktifitas rendah, produktifitas rendah meyebabkan pendapatan rendah, pendapatan rendah menyebabkan jaminan kesehatan rendah, jaminan kesehatanrendah menyebabkan kemiskinan, dan kemiskinan menyebabkan pendidikan rendah,,, dan seterusnya.

Ketika sebagai warga pergerakan melihat seperti itu apakah kita cukup hanya diam saja? dan pastinya masyarakat pun jenuh dengan kondisi siklus yang berputar seperti hal ini, harus ada perubahan untuk kedepannya, untuk merubah kondisi seperti ini .usaha dapat dilakukan dengan berbagai langkah, antara lain dengan sebuah perubahan nyata, yang dimulai dengan sebuh ide, ide yang kongkrit,dan hal ini harus didukung dengan perubahan  individu dan kelompok.proses perubahan inilah yang disebut dengan rekayasa sosial, maka rekayasa sosial diperlukan ketika ada gep antara keinginan dan kondisi faktual. Dan menurut saya anggapan mahasiswa dikatakan sebagai Agen of change, itu sudah tidak relevan lagi pada dewasa ini. Sebagai mahasiswa harus mampu menjadi Sang create of change (kreator perubahan).
Sebagaimana Dalam penggalan surah Ar-Rad ayat 11 yang terjemahannya sbb:
 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11
Dari ayat diatas dapat dikaji bahwasanya, Allah azza wa jalla tidak akan mengubah nasib suatu kaum atau kita bisa sebut masyarakat, sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya. Hal ini dapat menjadi dasar betapa perlunya sebuah rekayasa sosial, karena rekayasa sosial adalah proses upaya manusia untuk mengubah kondisi faktual menjadi kondisi yang diharapkan. Dan Allah pun akan meridhoi perubahan yang terjadi ketika kaum tersebut berusaha untuk merubahnya.
Berbicara masalah pelakunya tentunya PMII harus melakukan perubahan itu semua. PMII sudah mempunyai modal besar untuk melakukan itu. Soekarano mengatakan berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan ku goncangkan dunia. Jika dilihat PMII sudah memiliki ribuan pemuda yang tersebar dari seluruh indonesia tentunya ini harus mampu menjadi kekuatan bersama. Dengan kunci Semangat dan Komitmen bersama.







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0